A.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Model pembelajaran
berbasis masalah dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh
Jerome Bruner. Dukungan teoritis Jerome Bruner pada pengembangan model
pembelajaran berbasis masalah memberikan arti penting belajar konsep dan
belajar menggeneralisasi. Pembelajaran ini berorientasi pada kecakapan peserta
didik memproses informasi. Pemrosesan informasi mengacu pada cara-cara orang
menangani stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, melihat masalah,
mengembangkan konsep dan memecahkan masalah dan menggunakan lambang-lambang
verbal dan non-verbal. Model pembelajaran berbasis masalah menekankan
konsep-konsep dan informasi yang dijabarkan dari disiplin-disiplin akademik.
Pembelajaran berbasis
masalah melibatkan presentasi situasi-situasi autentik dan bermakna yang
berfungsi sebagai landasan bagi investigasi oleh peserta didik. Fitur-fitur
pembelajaran
berbasis masalah menurut Arends Sebagai berikut :
a. Permasalahan autentik. Pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan
masalah nyata yang penting secara sosial dan bermakna bagi peserta didik.
Peserta didk menghadapisituasi kehidupan nyata yang tidak dapat diberi
jawaban-jawaban sederhana.
b. Fokus interdisipliner. Pemecahan masalah menggunakan pendekatan interdisipliner.
Hal ini dimaksudkan agar peserta belajar berpikir struktural dan belajar
menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
c. Investigasi autentik. Peserta didik diharuskan melakukan unvestigasi
autentik yaitu berusaha menemukan solusi riil. Peserta didik diharuskan menganalisis
dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat
inferensi dan menarik kesimpulan. Metode penelitian yang digunakan bergantung
pada sifat masalah penelitian.
d. Produk. Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik
mengonstruksikan produk sebagai hasil investigasi. Produk bisa berupa paper
yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain.
e. Kolaborasi. Kolaborasi peserta didik dalam pembelajaran berbasis masalah
mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan
berpikir dan keterampilan sosial.
Hasil belajar dari
pembelajaran berbasis masalah adalah peserta didik memiliki keterampilan
penyelidikan. Peserta didik mempunyai keterampilan mengatasi masalah. Peserta
didik mempunyai kemampuan mempelajari peran orang dewasa. Peserta didik dapat
menjadi pembelajar yang mandiri dan indipenden.
Hal yang tidak kalah
esensiil sebagai hasil dari pembelajaran berbasis masalah adalah keterampilan
berpikir tingkat tinggi. Menurut Resnick ciri-ciri berpikir tingkat tinggi
adalah :
a. Bersifat non-algoritmik, artinya jalur tindakan tidak sepenuhnya ditetapkan
sebelumnya.
b. Bersifat kompleks, artinya mampu berpikir dalam berbagai perspektif atau
mampu menggunakan sudut pandang.
c. Banyak solusi, artinya mampu mengemukakan dan menggunakan berbagai solusi
dengan mempertimbangkan keuntungan dan kelemahan masing-masing.
d. Melibatkan interpretasi.
e. Melibatkan banyak kriteria, artinya mampu menggunakan berbagai kriteria.
f. Melibatkan ketidakpastian, artinya tidak semua yang berhubungan dengan
tugas yang ditangani telah diketahui.
g. Melibatkan pengaturan diri proses-proses berpikir.
h. Menentukan makna,menemukan struktur dalam sesuatu yang tampak tidak
beraturan. Mampu mengidentifikasi pola pengetahuan.
i.
Membutuhkan usaha.
Pembelajaran berbasis masalah
terdiri dari 5 fase dan perilaku. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan
tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan
pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.
Pada fase pertama hal-hal yang perlu
dielaborasi antar lain:
1. Tujuan utama pembelajaran bukan untuk mempelajari
sejumlah besar informasi baru tetapi untuk menginvestigasi berbagai permasalahan
penting dan menjadi pembelajar mandiri.
2. Permasalahan atau pertanyaan yang diinvestigasi tidak
memiliki jawaban mutlak “benar” dan sebagian besar permasalahan kompleks
memiliki banyak solusi yang kadang-kadang saling bertentangan.
3. Selama fase investigasi pelajaran, peserta didik didorong
untuk melontarkan pertanyaan dan mencari informasi. Guru memberikan bantuan
tetapi peserta didik mestinya berusaha bekerja secara mandiri atau dengan
teman-temannya.
4. Selama fase analisis dan penjelasan pelajaran, peserta didik
didorong untuk mengekspresikan ide-idenya secara bebas dan terbuka
Pada fase kedua, guru
diharuskan untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi diantara peserta didik
dan membantu mereka untuk menginvestigasi masalahsecara bersama-sama. Pada
tahap ini pula guru diharuskan membantu peserta didik merencanakan tugas investigatif
dan pelaporannya.
Pada fase ketiga, guru
membantu peserta didik menentukan metode investigasi. Penentuan tersebut
didasarkan pada sifat masalah yang hendak dicari jawabnya atau dicari
solusinya.
Pada fase keempat,
penyelidikan diikuti dengan pembuatan artefak dan exhibits. Artefak dapat
berupa laporan tertulis, termasuk rekaman proses yang memperlihatkan situasi
yang bermasalah dan solusi yang diusulkan. Artefak dapat berupa model-model
yang mencakup representasi fisik dari situasi masalah atau solusinya. Exhibit
adalah pendemonstrasian atas produk hasil investigasi atau artefak tersebut.
Pada fase kelima, tugas
guru adalah membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses
berpikir mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.
Terpenting dalam fase ini peserta didik mempunyai keterampilan berpikir
sistematik berdasarkan metode penelitian yang mereka gunakan.
Lingkungan belajar dan
sistem pengelolaan pembelajaran berbasis masalah harus ditandai oleh
keterbukaan, keterlibatan aktif peserta didik, dan atmosfer kebebasan
intelektual. Penting pula dalam pengelolaan pembelajaran berbasis masalah
memerhatikan hal-hal seperti situasi multitugas yang akan berimplikasi pada jalannya
proses investigasi, tingkat kecepatan yang berbeda dalam penyelesaian masalah,
pekerjaan peserta didik, dan gerakan dan perilaku diluar kelas.
B. Kelebihan dan Kekurangan Model PBM
Kelebihan model pembelajaran ini
adalah:
a.
Siswa
dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserap dengan baik.
b.
Siswa
dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
c.
Siswa
dapat memperoleh pemecahan
dari berbagai sumber.
Kekurangan model pembelajaran
ini adalah:
a.
Untuk siswa yang malas, tujuan dari
metode tersebut tidak dapat tercapai
b.
Membutuhkan
banyak waktu dan dana.
c. Tidak semua mata pelajaran
dapat diterapkan dengan model ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar