Senin, 08 Juli 2013

PROBLEMA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA


A.       Problema Kemasyarakatan Pendidikan Multikultural di Indonesia
Beberapa peristiwa budaya yang negatif dan sering muncul di tanah air seperti peristiwa di Poso, Ambon, Papua, Sampit, Aceh, Bali, Jakarta dan lain-lain ini disebabkan oleh problema kemasyarakatan sebagai berikut :
      1.      Keragaman Identitas Budaya Daerah
    Keragaman ini menjadi modal sekaligus potensi konflik. Keragaman budaya daerah memang memperkaya khasanah budaya dan menjadi modal yang berharga untuk membangun indonesia yang multikultural. Namun kondisi inilah yang sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi budayakonflik dan kecemburuan sosial. Masalah itu muncul jika tidak ada komunikasi antar budaya daerah.
      Dalam mengantisipasi hal itu, keragaman yang ada harus diakui sebagai sesuatu yang mesti ada dan dibiarkan tumbuh sewajarnya. Dengan adanya pendidikan multikultural itu diharapkan masing-masing warga daerah tertentu bisa mengenal, memahami, menghayati dan bisa saling berkomunikasi.
     
2.      Pergeseran Kekuasaan dari pusat ke Daerah
      Sejak dilanda arus reformasi dan demokratisasi, indonesia dihadapkan kepada beragam tantangan baru yang sangat kompleks. Satu diantaranya yang paling menonjol adalah persoalan budaya. Dalam arena budaya, terjadinya pergeseran kekuasaan dari pusat kedaerah membawa dampak besar terhadap pengakuan budaya lokal dan keberagamannya. Kebudayaan, sebagai kekayaan bangsa, tidak dapat lagi diatur oleh kebijakan pusat, melainkan dikembangkan dalam konteks budaya lokal masing-masing. Faktor pribadi (misalnya iri, keinginan memperoleh jabatan) dapat merubah menjadi isuisu publik yang ketika persoalan itu muncul di antara orang yang termasuk dalam putra daerah dan pendatang.Konsep pembagian wilayah menjadi provinsi atau kabupaten baru yang marak terjadi akhir-akhir ini selalu ditiup-tiupkan oleh kalangan tertentu agar mendapat simpati dari warga masyarakat. Mereka menggalang kekuatan dengan memanfaatkan isu kedaerahan ini. Warga mudah tersulut karena mereka berasal dari kelompok tertentu yang tertindas dan kurang beruntung.

      3.      Kurang Kokohnya Nasionalisme
      Keragaman budaya ini membutuhkan adanya kekuatan yang menyatukan “integrating force” seluruh pluralitas negeri ini. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, kepribadian nasional dan ideologi negara merupakan harga mati. Pancasila kurang mendapat perhatian dan kedudukan yang semestinya sejak isu kedaerahan semakin marak. Nasionalisme perlu ditegakkan namun dengan cara-cara yang edukatif, persuasif dan manusiawi bukan dengan pengerahan kekuatan. Sejarah telah menunjukan peranan pancasila yang kokoh untuk menyatukan kedaerahan ini. Kita sangat membutuhkan rasa nasionalisme yang kokoh untuk meredam dan menghilangkan isu yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa ini.

      4.      Fanatisme Sempit
      Fanatisme dalam arti luas memang diperlukan. Namun yang salah asalah fanatisme sempit, yang menganggap bahwa kelompoknyalah yang paling benar, paling baik dan kelompok lain harus dimusuhi. Gejala fanatisme sempit yang banyak menimbulkan korban ini banyak terjadi di tanah air ini. Kecintaan dan kebanggaan memang baik dan sangat diperlukan. Namun kecintaan dan kebanggan itu bila ditunjukan dengan bersikap memusuhi kelompok lain dan berperilaku menyerang kelompok lain maka fanatisme sempit ini menjadi hal yang destruktif.  Terjadiny perseteruan dan perkelahian antara oknum aparat kepolisian dengan oknum aparat TNI yang kerap terjadi di tanah air ini juga merupakn contoh dari fanatisme sempit ini. Apalagi fanatisme ini berbaur dengan isu agama, maka akan dapat menimbulkan gejala ke arah disintegrasi bangsa.

      5.      Konflik Kesatuan Nasional dan Multikultural
     Adanya tarik menarik antara kepentingan kesatuan nasional dengan gerakan multikultural. Di satu sisi ingin mempertahankan kesatuan bangsa dengan berorientasi pada stabilitas nasional. Namun dalam penerapannya, qt pernah mengalami konsep stabilitas nasional inii dimanipulasi untuk mencapai kepentingan-kepentingan politik tertentu. Adanya Gerakan Aceh Merdeka di Aceh dapat menjadi contoh ketika kebijakan penjagaan stabilitas nasional ini bewrubah menjadi ancaman bagi integrasi bangsa. Untunglah perbedaan pendapat ini dapat diselesaikan dengan damai dan beradab. Di sisi multikultural, kita melihat adanya upaya yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan pusat dengan dasar pembenaran budaya yang berbeda dengan pemerintah pusat yang berada di jawa.

      6.      Kesejahteraan Ekonomi yang Tidak Merata di antara Kelompok Budaya
      Kejadian yang nampak bernuansa SARA seperti Sampit beberapa waktu yang lalu setelah diselidiki ternyata berangkat dari kecemburuan sosial yang melihat warga pendatang memiliki kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik dari warga asli. Jadi beberapa peristiwa di tanah air yang bernuansa konflik budaya ternyata dipicu oleh persoalan kesejahteraan ekonomi.
Orang akan lebih mudah terintimidasi untuk melakukan tindakan yang anarkis ketika himpitan ekonomi yang mendera meraka. Mereka akan menumpahkan kekesalan mereka pada kelompok-kelompok mapan dan dianggap menikmati kekayaan yang dia tidak mampu meraihnya. Hal ini nampak dari gejala pengrusakan mobil-mobil mewah yang dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab dalam berbagai peristiwa di tanah air. Mobil mewah menjadi simbol kemewahan dan kemapanan yang menjadi kecemburuan sosial bagi kelompok tertentu sehingga akan cenderung dirusak dalam peristiwa kerusuhan.

     7.   Keberpihakan yang salah dari Media Massa, khususnya televisi swasta dalam memberitakan peristiwa.
     Di antara media massa tentu ada ideologi yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati. Persoalan kebebasan pers, otonomi, hak publik untuk mengetahui hendaknya diimbangi dengan tanggang jawab terhadap dampak pemberitaan. Mereka juga perlu mewaspadai adanya pihak-pihak tertentu yang pandai memanfaatkan media untuk kepentingan tertentu, yang justru dapat merusak budaya indonesia. Televisi dan media massa harus membantu memberi bahan tontonan dan bacaan yang mendidikan budaya yang baik. Karena menonton televisi dan membaca koran sudah menjadi tradisi yangkuat di negeri ini. Sehingga tontonan menjadi tuntutan, bukan tuntukan sekedar menjadi tontonan.
     Ketika penggusuran gubuk liar yang memilukan ditampilkan dalam bentuk tangisan yang memilukan seorang anak atau orang tua yang dipadukan dengan tindakan aparat yang menyeret para gelandangan akan bermakna lain bagi pemirsa bila yang ditampilkan adalah para preman bertato yang melawan tindakan petugas pamong praja. Ironi itu nampak bila yang disorot adalah tangisan bayi/orang tua dibandingkan dengan tato di lengan atau di punggung. Peristiwanya adalah penggusuran gubuk liar, tetapi simbol yang digunakan berbeda. Tangisan sebagai simbol kelemahan, ketidak berdayaan serta putus asa. Tato sering dikonotasikan secara salah sebagai simbol preman dan tindakan pemalakan. Televisi sangat mempengaruhi opini publik dalam menyorot berbagai peristiwa.

1 komentar: